Welcome to Everything of Study
Tampilkan postingan dengan label rumus matematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumus matematika. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2013

LINGKARAN

LINGKARAN
1.      Pengertian Lingkaran dan Bidang Lingkaran
Lingkaran adalah himpunan semua titik di sebuah bidang datar memiliki jarak yang sama dari suatu titik tetap pada bidang tersebut. Titik tetap pada bidang itu disebut dengan titik pusat lingkaran. Adapun jarak yang sama dari satu titik ke titik yang lain disebut dengan jari-jari lingkaran. Bidang lingkaran adalah daerah yang dibatasi dengan lingkaran. Tentu saja berbeda antara lingkaran dan bidang lingkaran. Dengan benang kita dapat mengkontekstualkan lingkaran sedangkan dengan tripleks atau karton dapat mengkontekstualkan bidang lingkaran.
Perhatikan Gambar dibawah ini!
Lingkaran dan bidang lingkaran
2.    Unsur-unsur Lingkaran ebuah lingkaran dengan titik pusat di-O

(perhatikan gambar!) mempunyai unsure-unsur sebagai berikut:
  1. Titik O merupakan titik pusat
  2. OA = OB = OC disebut dengan jari-jari lingkaran atau radius. Jari-jari lingkaran dilambangkan dengan r (radius)
Lingkaran yang berpusat di titik O dan memiliki jari-jari r maka dapat dituliskan dengan ( O,r )
  1. Tali busur adalah garis yang menghubungkan dua titik pada lingkaran. Pada gambar, ruas garis AC,BC dan DE merupakan tali busur.
 

unsur-unsur lingkaran
Tali busur yang melalui titik pusat lingkaran disebut dengan diameter atau garis tengah lingkaran. Pada gambar diatas ruas garis AC merupakan diameter lingkaran. Diameter lingkaran dilambangkan dengan ‘d’ hubungan antara jari-jari dengan diameter lingkaran adalah d = 2r
d. Apotema adalah ruas garis yang ditarik dari titik pusat lingkaran tegak lurus   pada sebuah tali busur. Apotema juga bisa disebut dengan jarak titik pusat lingkaran dengan tali busur tertentu. Pada gambar ruas garis OF merupakan apotema.
e. Busur adalah bagian dari keliling lingkaran dan dilambangkan dengan garis lengkung. Busur yang kurang dari setengah keliling lingkaran disebut dengan busur kecil. Sedangkan busur yang lebih dari setengah lingkaran disebut dengan busur besar.

Busur besar & Busur kecil

1.      Bagian-bagian Lingkaran
Bagian Lingkaran dapat dibagi menjadi dua yaitu : juring atau sektor dan tembereng
a.      Juring atau sektor
Adalah daerah didalam lingkaran yang dibatasi oleh dua buah jari-jari lingkaran dan busur lingkaran dihadapan sebuah sudut pusat yang dibentuk dua jari-jari tersebut. Juring dengan sudut pusat kurang dari 1800 dinamakan dengan juring kecil. Sedangkan juring dengan sudut pusat lebih dari 1800 dinamakan juring besar.


Juring besar & Juring Kecil

 
Ket:
Apabila tidak ada keterangan, yang dimaksud dengan juring AOB adalah Juring kecil AOB
 
b.      Tembereng
Adalah daerah yang dibatasi oleh busur lingkaran dan tali busurnya. Tembereng dengan sudut pusat kurang dari 1800 maka disebut dengan tembereng kecil dan tembereng dengan sudut pusat lebih dari 1800 disebut dengan tembereng besar.
Tembereng besar & Tembereng kecil

Sabtu, 30 November 2013

Teorema pytagoras

Sobat pasti tidak asing lagi dengan rumus a2 + b2 = c2. Itu adalah rumus dari teorema pythagoras. Kurang lebih 2500 tahun yang lalu seorang filsuf  yunani bernama Pythagoras menemukan fakta menarik tentang segitiga. Beliau menyatakan dalam sebuah segitiga siku-siku (salah satu sudutnya 90o), kuadrat sisi miringnya akan sama dengan jumlah kuadrat dari 2 sisi yang lain. Mari sobat hitung simak gambar berikut.
Jika kita punya sebuah segitiga siku-siku dengan sisi a,b, dan c
segitiga siku-sikuAkan berlaku
a2 + b2 = c2
dalam teorema yang dikemukakan oleh Pythagoras, sisi c atau sisi miring disebut dengan hipotenusa
Jika kuadrat merupakan luasan persegi, maka berlaku luasan persegi dari panjang sisi a + luasan persegi dari panjang sisi b = luasan panjang dari sisi c. Luasan ini akan kita gunakan untuk membuktikan rumus teorema Pythagoras, simak gambar berikut
pembuktian teorema pythagoras
dengan melihat gambar di atas maka
a^2 + b^2 = C^2
Pembuktian Toerema Pythagoras
Banyak cara yang bisa digunakan untuk membuktikan kebenaran teorema ini. Sobat bisa praktek langsung dengan alat atau menggunakan coret-coretan di kertas. Berikut ini pembuktian paling sederhana tentang kebenaran teorema Pythagoras dengan menggunakan luasan segitiga dan luasan persegi. Jika sobat punya segitiga siku-siku, cobalah menyusunnya membentuk kotak seperti di bawah ini.
pembuktian dalil pythagoras
Luas Persegi Besar = Luas Persegi
putih Kecil + Luas 4 Segitiga

(a+b)2 = c2 + 2.a.b
a2 + 2ab + b2 = c2 + 2ab
a2 +b2 = c2
 Pembuktian teorema Pythagoras lainnya yang bisa sobat lakukan adalah menggunakan tegel lantai, jika lantai rumah ada tegel atau ubinya, coba sobat buat segitiga alas 4 ubin dan tinggi 4 ubin
aplikasi phytagoras di kehidupanCoba sobat ukur panjang sisi miring dari segitiga di ubin tersebut (garis warna merah). Jika pengukuran sobat benar maka akan di dapat panjang sisi miring adalah 5 kali panjang ubin.

FAKTORISASI SUKU ALJABAR

FAKTORISASI SUKU ALJABAR

RINGKASAN MATERI
A.        Pengertian Faktorisasi
Faktorisasi aljabar adalah mengubah penjumlahan aljabar menjadi perkalian faktor-faktornya.
Contoh :
Karena 8 = 1 x 8, atau 8 = 2 x 4,  maka 1, 2, 4 dan 8 adalah faktor-faktor dari 8
B.        Bentuk Distributif
ab + ac = a(b + c)
ab – ac = a(b – c), dengan a adalah faktor suku aljabar yang sama.
Contoh :
15p2 + 9p = 3p(5p + 3)
C.        Bentuk Selisih Dua Kuadrat
a2 – b2 = (a + b)(a – b)
Contoh :
16m2 – 9 = (4m + 3)(4m – 3)
D.       Bentuk Kuadrat Sempurna
a2 + 2ab + b2 = (a + b)2
a2 – 2ab + b2 = (a – b)2
Contoh :
x2 + 10x + 25 = (x + 5)2
x2 – 16x + 64 = (x – 8)2
E.        Bentuk ax2 + bx +c, dengan a = 1
x2 + bx + c = (x + p)(x + q)
dengan syarat : pq = c dan p + q = b
Contoh :
x2 + 8x + 12 =(x + 2)(x + 6)
F.         Bentuk ax2 + bx +c, dengan a 1
 dengan syarat : pq = ac dan p + q = b
G.       Menyederhanakan Pecahan Aljabar
Contoh :
Cara : Bentuk aljabar difaktorkan dan faktor yang sama di hilangkan
 

Barisan Dan Deret



  • BARISAN ARITMATIKA

    U1, U2, U3, .......Un-1, Un disebut barisan aritmatika, jika
    U2 - U1 = U3 - U2 = .... = Un - Un-1 = konstanta

    Selisih ini disebut juga beda (b) = b =Un - Un-1

    Suku ke-n barisan aritmatika a, a+b, a+2b, ......... , a+(n-1)b
                                          U1, U2,   U3 ............., Un

    Rumus
    Suku ke-n :

    Un = a + (n-1)b = bn + (a-b)
    ® Fungsi linier dalam n


  • DERET ARITMATIKA

    a + (a+b) + (a+2b) + . . . . . . + (a + (n-1) b) disebut deret aritmatika.

    a = suku awal
    b = beda
    n = banyak suku
    Un = a + (n - 1) b adalah suku ke-n

    Jumlah n suku

    Sn = 1/2 n(a+Un)
          = 1/2 n[2a+(n-1)b]
          = 1/2bn² + (a - 1/2b)n ® Fungsi kuadrat (dalam n)

    Keterangan:

    1. Beda antara dua suku yang berurutan adalah tetap (b = Sn")

    2. Barisan aritmatika akan naik jika b > 0
      Barisan aritmatika akan turun jika
      b < 0

    3. Berlaku hubungan Un = Sn - Sn-1 atau Un = Sn' - 1/2 Sn"

    4. Jika banyaknya suku ganjil, maka suku tengah

      Ut = 1/2 (U1 + Un) = 1/2 (U2 + Un-1)          dst.

    5. Sn = 1/2 n(a+ Un) = nUt ® Ut = Sn / n

    6. Jika tiga bilangan membentuk suatu barisan aritmatika, maka untuk memudahkan perhitungan misalkan bilangan-bilangan itu adalah a - b , a , a + b 
     
    1. BARISAN GEOMETRI

      U1, U2, U3, ......., Un-1, Un disebut barisan geometri, jika

      U1/U2 = U3/U2 = .... = Un / Un-1 = konstanta

      Konstanta ini disebut pembanding / rasio (r)

      Rasio r = Un / Un-1

      Suku ke-n barisan geometri

      a, ar, ar² , .......arn-1
      U1, U2, U3,......,Un

      Suku ke n Un = arn-1
      ® fungsi eksponen (dalam n)


    2. DERET GEOMETRI

      a + ar² + ....... + arn-1 disebut deret geometri
      a = suku awal
      r = rasio
      n = banyak suku


      Jumlah n suku

      Sn = a(rn-1)/r-1 , jika r>1
            = a(1-rn)/1-r , jika r<1
         ® Fungsi eksponen (dalam n)

      Keterangan:

      1. Rasio antara dua suku yang berurutan adalah tetap
      2. Barisan geometri akan naik, jika untuk setiap n berlaku
        Un > Un-1
      3. Barisan geometri akan turun, jika untuk setiap n berlaku
        Un < Un-1

        Bergantian
        naik turun, jika r < 0

      4. Berlaku hubungan Un = Sn - Sn-1
      5. Jika banyaknya suku ganjil, maka suku tengah
                  _______      __________
        Ut =
        Ö U1xUn    = Ö U2 X Un-1      dst. 

      6. Jika tiga bilangan membentuk suatu barisan geometri, maka untuk memudahkan perhitungan, misalkan bilangan-bilangan itu adalah a/r, a, ar


    3. DERET GEOMETRI TAK BERHINGGA

      Deret Geometri tak berhingga adalah penjumlahan dari

      U1 + U2 + U3 + ..............................

      ¥
      å
      Un = a + ar + ar² .........................
      n=1

      dimana n ® ¥ dan -1 < r < 1 sehingga rn ® 0

      Dengan menggunakan rumus jumlah deret geometri didapat :

      Jumlah tak berhingga    S¥ = a/(1-r)

      Deret geometri tak berhingga akan konvergen (mempunyai jumlah) untuk -1 < r < 1

      Catatan:


      a + ar + ar2 + ar3 + ar4 + .................

      Jumlah suku-suku pada kedudukan ganjil

      a+ar2 +ar4+
      .......                     Sganjil = a / (1-r²)

      Jumlah suku-suku pada kedudukan genap

      a + ar3 + ar5 + ......                  Sgenap = ar / 1 -r²

      Didapat hubungan : Sgenap / Sganjil = r

    PENGGUNAAN
    Perhitungan BUNGA TUNGGAL (Bunga dihitung berdasarkan modal awal)
    M0, M1, M2, ............., Mn
    M1 = M0 + P/100 (1) M0 = {1+P/100(1)}M0
    M2 = M0 + P/100 (2) M0 = {1+P/100(2)} M0
    .
    .
    .
    .

    Mn =M0 + P/100 (n) M0 ® Mn = {1 + P/100 (n) } M0

    Perhitungan BUNGA MAJEMUK (Bunga dihitung berdasarkan modal terakhir)
    M0, M1, M2, .........., Mn
    M1 = M0 + P/100 . M0 = (1 + P/100) M0
    M2 = (1+P/100) M0 + P/100 (1 + P/100) M0 = (1 + P/100)(1+P/100)M0
         = (1 + P/100)² M0
    .
    .
    .

    Mn = {1 + P/100}n M0
    Keterangan :
    M0 = Modal awal
    Mn = Modal setelah n periode
    p   = Persen per periode atau suku bunga
    n   = Banyaknya periode

    Catatan:
    Rumus bunga majemuk dapat juga dipakai untuk masalah pertumbuhan tanaman, perkembangan bakteri (p > 0) dan juga untuk masalah penyusutan mesin, peluruhan bahan radio aktif (p < 0).
     
  • Jumat, 15 November 2013

    Peluang, Permutasi & Kombinasi Matematika

    Peluang, Permutasi & Kombinasi Matematika

    Rumus Web mengumpulkan materi Peluang, Permutasi & Kombinasi Matematika ini untuk anak SMA demi UAN SNMPTN SPMB SIMAK UI. Silakan dipelajari :)

    1) Permutasi
    Permutasi adalah susunan unsur-unsur yang berbeda dalam urutan tertentu. Pada permutasi urutan diperhatikan sehingga
    Permutasi k unsur dari n unsur adalah semua urutan yang berbeda yang mungkin dari k unsur yang diambil dari n unsur yang berbeda. Banyak permutasi k unsur dari n unsur ditulis atau .
    Permutasi siklis (melingkar) dari n unsur adalah (n-1) !
    2)Kombinasi
    Kombinasi adalah susunan unsur-unsur dengan tidak memperhatikan urutannya. Pada kombinasi AB = BA. Dari suatu himpunan dengan n unsur dapat disusun himpunan bagiannya dengan untuk Setiap himpunan bagian dengan k unsur dari himpunan dengan unsur n disebut kombinasi k unsur dari n yang dilambangkan dengan ,
    Peluang Matematika
    1. Pengertian Ruang Sampel dan Kejadian
    Himpunan S dari semua kejadian atau peristiwa yang mungkin mucul dari suatu percobaan disebut ruang sampel. Kejadian khusus atau suatu unsur dari S disebut titik sampel atau sampel. Suatu kejadian A adalah suatu himpunan bagian dari ruang sampel S.
    2) Pengertian Peluang Suatu Kejadian
    Pada suatu percobaan terdapat n hasil yang mungkin dan masing-masing berkesempatan sama untuk muncul. Jika dari hasil percobaan ini terdapat k hasil yang merupakan kejadian A, maka peluang kejadian A ditulis P ( A ) ditentukan dengan rumus :
    3)Kisaran Nilai Peluang Matematika
    Misalkan A adalah sebarang kejadian pada ruang sampel S dengan n ( S ) = n, n ( A ) = k dan
    Jadi, peluang suatu kejadian terletak pada interval tertutup [0,1]. Suatu kejadian yang peluangnya nol dinamakan kejadian mustahil dan kejadian yang peluangnya 1 dinamakan kejadian pasti.
    4. Frekuensi Harapan Suatu Kejadian
    Jika A adalah suatu kejadian pada frekuensi ruang sampel S dengan peluang P ( A ), maka frekuensi harapan kejadian A dari n kali percobaan adalah n x P( A ).
    5. Peluang Komplemen Suatu Kejadian
    Misalkan S adalah ruang sampel dengan n ( S ) = n, A adalah kejadian pada ruang sampel S, dengan n ( A ) = k dan Ac adalah komplemen kejadian A, maka nilai n (Ac) = n – k, sehingga :

    Jadi, jika peluang hasil dari suatu percobaan adalah P, maka peluang hasil itu tidak terjadi adalah (1 – P).
    Peluang Kejadian Majemuk
    1. Gabungan Dua Kejadian
    Untuk setiap kejadian A dan B berlaku :
    Catatan : dibaca “ Kejadian A atau B dan dibaca “Kejadian A dan B”
    2. Kejadian-kejadian Saling Lepas
    Untuk setiap kejadian berlaku Jika . Sehingga Dalam kasus ini, A dan B disebut dua kejadian saling lepas.
    3. Kejadian Bersyarat
    Jika P (B) adalah peluang kejadian B, maka P (A|B) didefinisikan sebagai peluang kejadian A dengan syarat B telah terjadi. Jika adalah peluang terjadinya A dan B, maka Dalam kasus ini, dua kejadian tersebut tidak saling bebas.
    4. Teorema Bayes
    Teorema Bayes(1720 – 1763) mengemukakan hubungan antara P (A|B) dengan P ( B|A ) dalam teorema berikut ini :
    5. Kejadian saling bebas Stokhastik
    (i) Misalkan A dan B adalah kejadian – kejadian pada ruang sampel S, A dan B disebut dua kejadian saling bebas stokhastik apabila kemunculan salah satu tidak dipengaruhi kemunculan yang lainnya atau : P (A | B) = P (A), sehingga:


    Kamis, 14 November 2013

    Rumus Praktis Persamaan Garis Lurus

    Rumus Praktis Persamaan Garis Lurus

    Buat yang SMP, terutama yang mau menghadapi UN, kali ini penulis akan memberikan Tips praktis memahami soal Persamaan Garis lurus. Ada beberapa jenis soal persamaan garis lurus yang perlu kita kuasai. Di antaranya sebagai berikut:
    1. Diketahui Gradien, dan titik
    Jika diketahui gradien m dan melalui titik x_1,y_1 , kita bisa menggunakan rumusy-y_1=m(x-x_1) 
    2. Diketahui dua titik
    Jika persamaan garis melalui titik (x_1 ,y_1 ) dan (x_2 ,y_2 ), kita bisa menggunakan rumus\frac{{y - y_1 }}{{y_2 - y_1 }} = \frac{{x - x_1 }}{{x_2 - x_1 }}  
    3. Diketahui Garis dan Titik
    Jika persamaan garis g sejajar / tegak lurus dengan garis h:\quad ax + by + c = 0  , dan melalui titik (x_1 ,y_1 ), maka
    (i) m_h = - \frac{a}{b}
    (ii) Jika sejajar maka m_g = m_h = - \frac{a}{b}
    Jika tegak lurus maka m_g \cdot m_h = - 1 atau m_g = - \frac{1}{{m_h }} = \frac{b}{a}
    (iii) Melalui titik (x_1 ,y_1 ), berarti y - y_1 = m_g (x - x_1 )

    Kamis, 07 November 2013

    KUMPULAN RUMUS MATEMATIKA BANGUN RUANG

    Ilmu matematika tidak lepas dari rumus-rumus bangun ruang seperti kubus, balok, tabung, kerucut, limas, dan bola. Artikel kali ini saya menulis tentang rumus bangun ruang yang ada di dalam ilmu matematika seperti rumus kubus, rumus tabung, rumus kerucut, rumus limas untuk mengetahui ataupun mengingat kembali luas dan volume masing-masing bangun ruang.

    Bangun ruang berbeda dengan bangun datar dalam menentukan rumusnya , yaitu tergantung dari bentuknya bangun masing-masing. Secara umum bentuk dari bangun ruang adalah 3 dimensi yang mempunyai isi berbeda dengan bangun datar yang hanya 2 dimensi.

    1. KUBUS

    Terdapat 6 (enam) buah sisi yang berbentuk persegi dengan masing-masing luasnya sama.
    Terdapat 12 (dua belas) rusuk dengan panjang yang sama.
    Semua sudut bernilai 90 derajat atau siku-siku.


    Rumus:

    Luas Permukaan Kubus = 6 x rusuk x rusuk
    Luas salah satu sisi = rusuk x rusuk   
    Volume Kubus = rusuk x rusuk x rusuk ( rusuk 3 )
    Keliling Kubus = 12 x rusuk
       
    2. BALOK


    Rumus:

    Diagonal Ruang = Akar dari (p kuadrat + l kuadrat + t kuadrat)
    Luas Permukaan Balok = 2 x {(pxl) + (pxt) + (lxt)}
    Volume Balok = p x l x t (sama dengan kubus, tetapi semua rusuk kubus sama panjang).
    Keliling Balok = 4 x (p + l + t)

    3. BOLA

    Rumus:

    Volume Bola = 4/3 x π x jari-jari x jari-jari x jari-jari
    Luas Bola = 4 x π x jari-jari x jari-jari, atau
                        4 x π x r2
    π  = 3,14 atau 22/7

       
    4. TABUNG/SILINDER 


    Rumus:

    Luas = luas alas + luas tutup + luas selimut, atau 
                ( 2 x π x r x r) + π x d x t)
    Volume = luas alas x tinggi, atau
                    luas lingkaran x t


    5. KERUCUT

    Rumus:

    Luas = luas alas + luas selimut
    Volume = 1/3 x π x r x r x t


    6. LIMAS
     
    Rumus:

    Luas = luas alas + jumlah luas sisi tegak
    Volume = 1/3 luas alas tinggi sisi

    Semoga Bermanfaat ^_^